Jumat, 26 April 2013

RADEN AJENG KARTINI MASA KINI ( TRI KIRANA MUSLIDATUN )



Pejuang Kemajuan Wanita Kartini

Mendirikan sekolah wanita di Jepara dan Rembang.
Door Duistermis tox Licht, Habis Gelap Terbitlah Terang, itulah judul buku dari kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini yang terkenal. Surat-surat yang dituliskan kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda itu kemudian menjadi bukti betapa besarnya keinginan dari seorang Kartini untuk melepaskan kaumnya dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya.
Buku itu menjadi pedorong semangat para Indonesia dalam memperjuangkan hak-haknya. Perjuangan tidaklah hanya tertulis di atas kertas tapi dibuktikan dengan mendirikan sekolah gratis untuk anak gadis di Jepara dan Rembang.
Upaya dari puteri seorang Bupati Jepara ini telah membuka penglihatan kaumnya di berbagai daerah lainnya. Sejak itu sekolah-sekolah lahir dan bertumbuh di berbagai pelosok negeri. Indonesia pun telah lahir menjadi manusia seutuhnya.
Di era , akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya.
yang merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak mempunyai pilihan sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang wanita, juga selalu diperlakukan beda dengan saudara maupun teman-temannya yang pria, serta perasaan iri dengan kebebasan wanita-wanita Belanda, akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah kebiasan kurang baik itu.
Pada saat itu, Raden Ajeng Kartini yang lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879, ini sebenarnya sangat menginginkan bisa memperoleh pendidikan yang lebih tinggi, namun sebagaimana kebiasaan saat itu dia pun tidak diizinkan oleh orang tuanya.
Dia hanya sempat memperoleh pendidikan sampai E.L.S. (Europese Lagere School) atau tingkat sekolah dasar. Setamat E.L.S, Kartini pun dipingit sebagaimana kebiasaan atau adat-istiadat yang berlaku di tempat kelahirannya dimana setelah seorang wanita menamatkan sekolah di tingkat sekolah dasar, gadis tersebut harus menjalani masa pingitan sampai tiba saatnya untuk menikah.
Merasakan hambatan demikian, Kartini remaja yang banyak bergaul dengan orang-orang terpelajar serta gemar membaca buku khususnya buku-buku mengenai kemajuan wanita seperti karya-karya Multatuli "Max Havelaar" dan karya tokoh-tokoh pejuang wanita di Eropa, mulai menyadari betapa tertinggalnya wanita sebangsanya bila dibandingkan dengan wanita bangsa lain terutama wanita Eropa.
Dia merasakan sendiri bagaimana ia hanya diperbolehkan sekolah sampai tingkat sekolah dasar saja padahal dirinya adalah anak seorang Bupati. Hatinya merasa sedih melihat kaumnya dari anak keluarga biasa yang tidak pernah disekolahkan sama sekali.
Sejak saat itu, dia pun berkeinginan dan bertekad untuk memajukan wanita bangsanya, Indonesia. Dan langkah untuk memajukan itu menurutnya bisa dicapai melalui pendidikan. Untuk merealisasikan cita-citanya itu, dia mengawalinya dengan mendirikan sekolah untuk anak gadis di daerah kelahirannya, Jepara. Di sekolah tersebut diajarkan pelajaran menjahit, menyulam, memasak, dan sebagainya. Semuanya itu diberikannya tanpa memungut bayaran alias cuma-cuma.
Bahkan demi cita-cita mulianya itu, dia sendiri berencana mengikuti Sekolah Guru di Negeri Belanda dengan maksud agar dirinya bisa menjadi seorang pendidik yang lebih baik. Beasiswa dari Pemerintah Belanda pun telah berhasil diperolehnya, namun keinginan tersebut kembali tidak tercapai karena larangan orangtuanya. Guna mencegah kepergiannya tersebut, orangtuanya pun memaksanya menikah pada saat itu dengan Raden Adipati Joyodiningrat, seorang Bupati di Rembang.
Berbagai rintangan tidak menyurutkan semangatnya, bahkan pernikahan sekalipun. Setelah menikah, dia masih mendirikan sekolah di Rembang di samping sekolah di Jepara yang sudah didirikannya sebelum menikah. Apa yang dilakukannya dengan sekolah itu kemudian diikuti oleh wanita-wanita lainnya dengan mendirikan 'Sekolah Kartini' di tempat masing-masing seperti di Semarang, Surabaya, , Malang, Madiun, dan Cirebon.
Sepanjang hidupnya, Kartini sangat senang berteman. Dia mempunyai banyak teman baik di dalam negeri maupun di Eropa khususnya dari negeri Belanda, bangsa yang sedang menjajah Indonesia saat itu. Kepada para sahabatnya, dia sering mencurahkan isi hatinya tentang keinginannya memajukan wanita negerinya. Kepada teman-temannya yang orang Belanda dia sering menulis surat yang mengungkapkan cita-citanya tersebut, tentang adanya persamaan hak kaum wanita dan pria.
Setelah meninggalnya Kartini, surat-surat tersebut kemudian dikumpulkan dan diterbitkan menjadi sebuah buku yang dalam bahasa Belanda berjudul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Apa yang terdapat dalam buku itu sangat berpengaruh besar dalam mendorong kemajuan wanita Indonesia karena isi tulisan tersebut telah menjadi sumber motivasi perjuangan bagi kaum wanita Indonesia di kemudian hari.
Apa yang sudah dilakukan RA Kartini sangatlah besar pengaruhnya kepada kebangkitan bangsa ini. Mungkin akan lebih besar dan lebih banyak lagi yang akan dilakukannya seandainya Allah memberikan usia yang panjang kepadanya. Namun Allah menghendaki lain, ia meninggal dunia di usia muda, usia 25 tahun, yakni pada tanggal 17 September 1904, ketika melahirkan putra pertamanya.
Mengingat besarnya jasa Kartini pada bangsa ini maka atas nama negara, pemerintahan , Presiden Pertama Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 yang menetapkan Kartini sebagai Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.
Belakangan ini, penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar agak diperdebatkan. Dengan berbagai argumentasi, masing-masing pihak memberikan pendapat masing-masing. Masyarakat yang tidak begitu menyetujui, ada yang hanya tidak merayakan Hari Kartini namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember.
Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan - wanita Indonesia lainnya. Namun yang lebih ekstrim mengatakan, masih ada pahlawan wanita lain yang lebih hebat daripada RA Kartini. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Dan berbagai alasan lainnya.
Sekalipun Sumpah Pemuda belum dicetuskan waktu itu, tapi pikiran-pikirannya tidak terbatas pada daerah kelahiranya atau tanah Jawa saja. Kartini sudah mencapai kedewasaan berpikir nasional sehingga nasionalismenya sudah seperti yang dicetuskan oleh Sumpah Pemuda 1928.
Terlepas dari pro kontra tersebut, dalam sejarah bangsa ini kita banyak mengenal nama-nama pahlawan wanita kita seperti Cut Nya' Dhien, Cut Mutiah, Nyi. Ageng Serang, Dewi Sartika, Nyi , Ny. Walandouw Maramis, Christina Martha Tiahohu, dan lainnya.
Mereka berjuang di daerah, pada waktu, dan dengan cara yang berbeda. Ada yang berjuang di , Jawa, , Menado dan lainnya. Ada yang berjuang pada zaman penjajahan Belanda, pada zaman penjajahan Jepang, atau setelah kemerdekaan. Ada yang berjuang dengan mengangkat senjata, ada yang melalui pendidikan, ada yang melalui organisasi maupun cara lainnya. Mereka semua adalah pejuang-pejuang bangsa, pahlawan-pahlawan bangsa yang patut kita hormati dan teladani.
Raden Ajeng Kartini sendiri adalah pahlawan yang mengambil tempat tersendiri di hati kita dengan segala cita-cita, tekad, dan perbuatannya. Ide-ide besarnya telah mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaumnya dari kebodohan yang tidak disadari pada masa lalu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, dia mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi.
Bagi wanita sendiri, dengan upaya awalnya itu kini kaum wanita di negeri ini telah menikmati apa yang disebut persamaan hak tersebut. Perjuangan memang belum berakhir.

RADEN AJENG KARTINI MASA KINI
TRI KIRANA MUSLIDATUN

Menjadi istri orang nomor dua di kota segudang prestasi ini, membuat ibu dua orang anak ini  harus ekstra keras membagi waktu untuk keluarga dan kegiatan sosial kemasyarakatan. Namun dengan kekuatan niat yang tulus dan kiklasan hati untuk berbagi mampu menyingkirkan halang rintang yang ada sejauh ini. Dia adalah salah satu dari ribuan sosok  KARTINI di masa kini.

    Kehidupan kota metropolitan bahkan bisa dikatakan megapolitan sekelas Jakarta, beralih dalam kehidupan kota kecil seperti Yogyakarta, tidak membuat kecil hati memajukan negeri ini. Bermula dari kisah cinta di kampus Bulaksumur UGM lantas mengawali suatu kehidupan. Sebut saja Tri Kirana Muslidatun dan Haryadi Suyuti, dua hati bertautan hingga terucap janji suci, seusai menuntut ilmu di kampus tertua ini.
Mengawali hidup di ibukota Jakarta, bukanlah sesuatu yang mudah, mungkin bagi orang yang tidak siap, membayangkan saja enggan. “Kami berangkat dari nol babat alas di Jakarta, hingga hidup mulai mapan. Saya menetap di Jakarta setelah Bapak mendapatkan pekerjaan tetap di beberapa perusahaan dan BUMN. Kehidupan kami mulai agak mapan, tetapi tidak atau belum semapan sekarang,” kata wanita berkaca mata ini.

    Guna mendongkrak ekonomi bertahan di Jakarta, wanita kelahiran Yogyakarta 10 Mei 1969, mengawali karirnya tahun 1992 sebagai distributor produk import dari PT. Peak Perkasa. Tahun 1995 Government dan Business Relationship Libanon Company bertahan 2 tahun. Kemudian tahun 1997 hingga 2000 sebagai direktur PT. Citra Catur Mulya. Tahun 2000 hingga kini sebagai pemilik PT. Cipta Sarana Kreasi Niaganindo dan Psa Apotek FIKI Yogyakarta.

    Dari seabreg kegiatan bisnisnya, ibu dari Karina Arifiani dan Kartika Zahra Salsabila ini tetap  mencurahkan kasih sayang kepada dua buah hatinya. “Keluarga bagi saya tetap nomor satu, sesibuk apapun, mesti ada waktu untuk keluarga terutama anak. Bahkan kedua anak saya semua full Asi tidak memakai susu formula. Ini bukti betapa serius dan perhatian saya terhadap anak,” kata Ibu Ana
.

    Terbiasa dengan irama hidup kota Jakarta, membuat Tri Kirana merasa sedikit canggung pada tahun pertama menjadi istri orang nomor dua di Kota Jogja. Dikatakan, menjadi Ibu dari warga Kota Yogyakarta awalnya agak kurang pede, karena kehidupan individual ketika di Jakarta sangat dominan. Kini setelah di Jogja dengan berbagai kegiatan dan tanggung jawab sosial yang luar biasa, sementara ada dua kewajiban, yakni sebagai wiraswasta dan ibu rumah tangga, tak menyurutkan Ibu Ana memberi perhatian terhadap keluarga terutama anak menjadi prioritas.

    Tri Kirana mengaku, komunikasi antar anggota keluarga memang jadi nomor satu. Hal ini guna memantau kegiatan dan kesulitan apa yang dialami anak-anaknya. Biasanya komunikasi keluarga dia lakukan setelah sholat maghrib, dilanjutkan makan malam.Sebab setelah jam 19.00 WIB ibu orang nomor dua di Kota Yogyakarta ini akan beraktivitas lagi.

    Ditambahkan, komunikasi juga di saat anak-anak menjelang tidur. “Saya berusaha nemani anak baik yang besar maupun yang kecil, sebab anak-anak lebih dekat dengan saya, termasuk hal yang privasi bisa dicurahkan dengan ibunya. Karena anak akan lebih leluasa mengungkapkan segala problemanya. Juga menjelang sekolah kita tanya kegiatan hari ini apa, sampai jam berapa. Hal ini saya lakukan meski tergesa-gesa, sesibuk apapun keluarga tetap nomor satu,”kata wanita yang membidani naga barongsai terpanjang di Asia pada perayaan Imlek lalu.

    Selain keluarga, Ibu Ana yang menerima berbagai penghargaan ini juga mengutamakan pelayanan warganya. Hal ini dibuktikan dengan pengabdian kepada warga dengan cara merespon apa kemauan warga, diantaranya kaum hawa, utamanya lansia dan posyandu. Untuk ngemong warganya Tri Kirana mengaku memakai jurus pemetaan, apa dan siapa saja yang harus dilayani Drs. Haryadi Suyuti dan Tri Kirana sebagi pendampingnya.

    ”Kegiatan PKK yang ada di Kota Yogyakarta sebagi wadah saya melayani masyarakat sampai RT/RW. Artinya, kancah organisasi ini sampai lapisan paling bawah, sebagai orang nomor dua di PKK harus totalitas. Saya melihat masyarakat Kota Yogyakarta sangat antusias dalam organisasi kemasyarakatan. Saya belajar dari masyarakat dan menyesuaikan agar dapat diterima dan direspon baik oleh masyarakat. Sehingga apabila masyarakat dapat menerima, berarti tugas sebagai pendamping orang kedua juga bisa diterima masyarakat. Kegiatan ini muaranya adalah ibadah. Artinya, apabila amanah datang dari Allah dan masyarakat apa yang saya lakukan dapat bermanfaat bagi masyarakat pula,” terang Ibu alumnus SMA Negeri 1 Yogyakarta.

    Mengenai kesetaraan gender dikatakan luar biasa. Menurut ibu yang selalu tampil modis ini, bertugas di Kota Yogyakarta yang paling membanggakan adalah bagusnya kesetaraan gender, sehingga beberapa tujuan dari berbagai organisasi sosial tercapai. Secara pribadi hal tersebut membuat kuat dan betah melayani warga. “Saya rasa kesetaraan gendar di Kota Yogyakarta cukup signifikan, karena di kota budaya ini perempuan yang bekerja cukup banyak, aktivitas sosial di wilayahpun dominasi perempuan dan laki-laki sama. Artinya, kegiatan yang ranahnya PKK, PAUD banyak bapak-bapak yang membantu, demikian pula sebaliknya. Yang lebih kentara peranserta bapak-bapak di wilayah adalah dalam PAUD. Dari 614 PAUD sudah banyak bapak-bapak menjadi pengurus, bahkan sebagai pendidik PAUD itu sendiri,” tuturnya.

    Sebaik apapun seorang wanita tetap manusia biasa, dia tak luput dari kesalahan, kekurangan dan ketidaksempurnaan. Pengalaman menunjukkan bahwa ternyata yang membawa kesejukan dalam hidup ini adalah keluarga yang solid. Yaitu keluarga yang mampu menghadapi hidup dengan kuat dan menghadapi segala tantangan. Kekuatan itu yang terpenting adalah pondasi keluarga harus kuat dan hubungan keluarga lebih dipererat. Kehebatan seorang perempuan di Indonesia telah dibuktikan Kartini, dengan emansipatorisnya membuka tirai yang selama ini menyelimuti. Kartini telah membuktikan bahwa perempuan sama hebat dengan kaum laki-laki. Kartini telah menyamakan persamaan yang selama ini dipandang sebelah mata. Berkat kartini kesetaraan itu kini dinikmati srikandi-srikandi  Indonesia. Namun wanita tidak akan bisa melawan kodratnya, yaitu dia harus melahirkan, harus menyusui dan membesarkan generasi bangsa yang telah dikandungnya.
Memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali, karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya; menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”
REFERENSI  :

Tidak ada komentar :